Buku Bacaan di Sekolah Masih Minim

buku sekolah minim

Penyediaan buku-buku bacaan bermutu di sekolah menjadi unsur penting untuk menunjang atensi dan kesanggupan membaca siswa. Sayangnya, berdasar pada pendataan yang dilaksanakan di 28 persen sampel sekolah internasional di Jakarta dan madrasah mitra Program PINTAR Tanoto Foundation, cuma 9 persen sekolah yang mempunyai inisiatif untuk menyediakan buku-buku bacaan nonbuku paket yang ramah si kecil.

Hal itulah yang menunjang Tanoto Foundation menggandeng Room to Read untuk memberikan hibah buku-buku bacaan yang ramah si kecil. Untuk tahap pertama, Tanoto Foundation dan Room to Read telah menghibahkan 17.880 buku bacaan ini untuk 298 SD dan MI mitra yang tersebar di lima provinsi, ialah Sumatera Utara, Jambi, Riau, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur.

Direktur Program PINTAR Tanoto Foundation, Stuart Weston mengatakan, hibah buku ini juga untuk memantik pengelola sekolah mewujudkan tipe kesibukan untuk menunjang atensi membaca siswa. Program kebiasaan baca bisa sukses seandainya ada buku yang meningkatkan atensi membaca siswa.

“Lebih dari 4.100 kepala sekolah, guru, pengawas, dan komite sekolah telah kami latih untuk berinisiasi memaksimalkan tipe program kebiasaan baca. Mereka juga difasilitasi supaya bisa meningkatkan kesanggupan siswa dalam membaca dan memahami isi buku,” .

Ia membeberkan, yang terutamanya para pengelola sekolah perlu berprofesi sama memikirkan penyediaan buku-buku bacaan secara berkelanjutan. Buku-buku hal yang demikian juga semestinya gampang diakses oleh siswa sehingga bisa membangkitkan atensi mereka untuk membaca.

Pada tahun 2019 ini, Tanoto Foundation menargetkan lebih dari 160 ribu buku bacaan yang ramah si kecil akan dihibahkan ke 440 sekolah dan madrasah mitra Program PINTAR.

Sementara itu, pendiri Sekolah Tara Salvia, Angie Anggari menceritakan, penyediaan buku bacaan si kecil yang ramah si kecil menjadi kunci keberhasilan sekolah dalam menumbuhkan atensi membaca si kecil. Jika di sekolah tak ada buku-buku bacaan yang dapat menarik atensi membaca karenanya bisa dipastikan sekolah akan gagal membikin mereka bergembira membaca.

“Tradisi membaca akan berkembang menjadi kebiasaan membaca bila didorong oleh beraneka unsur, seperti ketersediaan buku bacaan, situasi siswa, lingkungan belajar, dan juga dukungan orang tua,” ungkap ia.

Berdasarkan Angie, membaca mempunyai peranan penting dalam pelaksanaan pelajaran. Kecil-si kecil dengan keterampilan membaca yang bagus, lazimnya mempunyai pencapaian akademik yang bagus pula.

Pada era industri 4.0, adat istiadat membaca mempunyai peran penting dalam menjamin keberlangsungan belajar seumur hidup secara mandiri.

Tradisi membaca seseorang membikin ia dapat terus belajar di mana saja dan kapan saja.

“Tradisi membaca juga yaitu sarana untuk memaksimalkan kesanggupan mencari, menilai, dan memanfaatkan info pada diri siswa semenjak dini,” kata Angie.